Sinopsis Hwarang Episode 9 Part 1

Cafe Sinopsis. Sinopsis Hwarang Episode 9 Part 1. Berusaha menahan isak tangisnya, A Ro bertanya pada Woo Reuk, apakah Oraboni-nya yang sebenarnya pernah merindukannya? Woo Reuk membenarkannya, Mak Moon selalu membicarakan tentang adiknya. Setiap kali dia hendak tidur, dia akan selalu berdoa pada langit agar dia memimpikan adiknya.

"Lalu kenapa dia tidak bisa datang?" tanya A Ro dengan berlinang air mata. Woo Reuk hanya bisa mendesah, tak tega menjawabnya.



A Ro tetap tersenyum saat Sun Woo berjalan mendekatinya dan memberikannya bunga krisan yang dia klaim dia berikan pada A Ro sebagai bahan untuk obat sakit kepala dan bukannya sebagai bunga. A Ro mengaku senang karena Sun Woo menjadi oraboni-nya... tapi kemudian dia menjatuhkan buket  bunga itu dan mulai mengkonfrontasi identitas Sun Woo yang sebenarnya. 

Sun Woo bukan oraboni-nya, siapa dia sebenarnya? Sun Woo mengakuinya. Dia memang bukan Oraboni-nya A Ro, dia teman Oraboni-nya A Ro. Air mata A Ro berlinang saat dia menuntut apa yang terjadi pada oraboni-nya yang asli.

"Dia sudah meninggal."

"Kenapa orabi-ku meninggal dan kau masih hidup? Katakan!"

"Kau pernah dengar jika petani akan dibunuh jika mereka menyusup tembok Ibukota, bukan? Sebenarnya dia bisa melarikan diri. Tapi saat berusaha menyelamatkanku, dia terbunuh oleh pedang prajurit istana."

Sun Woo tidak peduli walaupun A Ro sekarang tidak akan memandangnya sebagai orabi-nya, tapi dia akan tetap hidup sebagai orabi-nya A Ro. Karena itulah keinginan Orabi-nya A Ro. Jadi A Ro juga harus hidup sesuai keinginan Orabi-nya. A Ro langsung pergi tanpa menjawabnya.



Ji Dwi melihat A Ro. Dia langsung jahil ingin mengageti A Ro, tapi malah mendapati A Ro menangis. Ji Dwi sontak cemas dan memutuskan membuntuti A Ro dari belakang tanpa menganggunya hingga A Ro berhenti di tepi sungai.



Tangis A Ro pecah saat dia teringat Sun Woo berusaha meyakinkannya bahwa dia kakaknya dan saat dia memutuskan untuk menerima Sun Woo sebagai kakaknya.


Sun Woo melampiaskan kesedihannya dengan memukulkan pedang kayunya berkali-kali sampai tangannya berdarah. Lukanya membuatnya teringat saat A Ro mengobatinya dan memintanya untuk tidak terluka lagi dan pengakuan mereka pada satu sama lain bahwa sekarang mereka mulai saling mencemaskan satu sama lain.



Pa Oh menyembunyikan dirinya di dalam selimutnya Ji Dwi tapi setelah beberapa lama menunggu, Ji Dwi masih saja belum muncul. Saat mendengar seseorang datang, Pa Oh langsung merapatkan selimutnya. Soo Ho heran melihat Ji Dwi terbungkus selimut, apalagi disertai peringatan 'MENJAUHLAH'.

Soo Ho cuek membuang kertas peringatan itu dan bertanya tentang kejadian saat mereka kabur malam itu, apa benar-benar tidak terjadi apapun padanya? Tapi anehnya, dia merasa orang-orang berusaha menghindarinya. Soo Ho mengaku kalau perasaannya sebenarnya tak enak, sepertinya terjadi sesuatu yang membuatnya marah tapi masalahnya dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.

Pa Oh hanya menjawabnya dengan gumaman. Soo Ho bertanya apa dia sakit, Pa Oh mengiyakannya dengan gumaman lagi. So Hoo langsung protes, bagaimana bisa dia sakit saat mereka hendak tampil. Sebaiknya dia tidak membuat kesalahan di depan Ratu nantinya. "Sebaiknya kau cepat bangun!" bentak Soo Ho sambil menempeleng kepala Pa Oh lalu pergi.



A Ro terus menangis sepanjang perjalanan pulang. Ji Dwi menyusulnya dan menawarkan sekantong perak, mengira itu bisa menghibur A Ro. Saat A Ro mengacuhkannya, dia ganti menawarkan pelukan... "Atau kau ingin aku membunuh orang yang membuatmu menangis?"

Langkah A Ro terhenti seketika. Ji Dwi meminta A Ro mengatakannya saja, siapa orang yang menganggu A Ro? Apa orang itu mencemooh A Ro? Jika benar orang itu menghina A Ro, Ji Dwi bersumpah akan membuat orang itu mati tersiksa.

"Melihatmu menangis membuatku sangat marah. Siapa orang yang telah menyakitimu itu? Aku harus membunuhnya! Jika kau menangis karena merisaukan seseorang, aku akan membunuhnya juga. Jadi katakan padaku. Siapa yang sudah membuatmu menangis?"

A Ro terus menangis tapi dia mengklaim kalau dia menangis karena dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri dan benci pada dirinya sendiri. Tapi di satu sisi, dia merasa lega. "Aku benci pada diriku sendiri!"



Ji Dwi terus membuntuti A Ro sampai malam dan A Ro tiba di rumahnya. Ia bergumam meminta A Ro untuk tidak menangis lagi sekarang, "Aku akan membuatmu jadi milikku."



A Ro melihat Ayahnya tengah meramu obat di dapur. Dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa Ayah tidak memberitahunya? Kenapa Ayah membiarkan pria itu hidup sebagai kakaknya? Rahasia apa lagi yang Ayah sembunyikan darinya?



Begitu kembali ke Rumah Hwarang, Ji Dwi sudah ditunggu Sun Woo yang langsung menanyakan keadaan A Ro, dia mengaku melihat Ji Dwi membuntuti A Ro tadi. Ji Dwi langsung sadar Sun Woo lah orang yang sudah membuat A Ro menangis, tapi bukankah dia sudah terlalu tua untuk membuat adiknya menangis?

Ji Dwi heran, bagaimana bisa Sun Woo menyakiti adiknya seperti itu? Apa yang Sun Woo lakukan hingga membuat A Ro bersedih dan kebingungan seperti itu? Sun Woo menolak menjawab dan langsung mencengkeram baju Ji Dwi dan menuntutnya untuk memberitahukan keadaan A Ro saja, apa A Ro baik-baik saja? Ji Dwi hanya menatapnya heran.




Sampai larut, Sun Woo dan A Ro saling termenung memikirkan kenyataan ini. Ji Dwi melihat lukisan A Ro dan teringat ucapan A Ro yang mengkasihani Raja. Teringat tangisan A Ro, Ji Dwi bergumam pada lukisannya. "Aku juga mengkasihanimu. Tidak bisakah kau melihatku sekarang?"


Di istana, Ratu Ji So teringat akan percakapannya dengan Ui Hwa. Dia tidak mengerti kenapa Hwarang akan tampil demi rakyat? Ui Hwa mengklaim karena Hwarang dibangun untuk Silla. Ratu Ji So tak setuju dan mengklaim kalau Hwarang milik Raja, Hwarang adalah milik keluarga kerajaan.

"Hwarang bukan untuk orang-orang tertentu. Tugas mereka adalah untuk menjaga Silla tetap aman dan melindungi rakyat Silla," ujar Ui Hwa.



Mulai cemas dengan ucapan Ui Hwa itu, Ratu Ji So meminta pendapat Tuan Kim tentang Ui Hwa. Tuan Kim berpendapat bahwa Ui Hwa adalah satu-satunya orang yang bisa mengontrol Hwarang, tapi Ui Hwa juga bukan orang yang bisa dipercaya sepenuhnya. Kalau begitu, Ratu Ji So bertekad untuk membuat Ui Hwa bisa dipercaya.



Anak Buah Ratu memimpin beberapa pelayan yang menggotong sebuah tandu. Joo Ki bertanya-tanya siapa orang didalam tandu itu, seorang gisaeng memberitahunya bahwa yang didalam tandu itu adalah Putri Sook Myung. Putri yang dulu pergi karena dia sakit. Lalu kenapa sekarang dia mendadak kembali?


Setibanya di istana, Putri Sook Myung langsung menghadap Ratu Ji So yang memberinya pelukan selamat datang, tapi wajah sang putri tampak dingin tanpa senyum.


Ratu Ji So lalu pergi menemui Ui Hwa untuk memberitahukan kedatangan Sook Myung. Dia ingin Sook Myung tinggal di Rumah Hwarang dengan alasan agar Sook Myung bisa membantu persiapan festival. Tapi Ui Hwa menolak ide itu dengan sopan, dia akan mengurus sendiri segala hal yang ada di Rumah Hwarang.

Kesal, Ratu langsung menyinggung identitas Ji Dwi. Apa dia sungguh keponakannya Ui Hwa? Dia memang sudah berjanji akan menerima Hwarang pilihan Ui Hwa tanpa pertanyaan. Tapi jika Ji Dwi membuat kekacauan di Ibukota atau memimpin pemberontakan, maka itu akan lain cerita.



"Itu tidak akan terjadi."

"Orang yang dia kenal di Ibukota hanya kau. Kita tidak tahu apa yang dia lakukan sebelum dia datang kemari. Bagaimana bisa kau begitu yakin?"

"Apa anda tidak mempercayai saya?"

"Apa kau bisa membuktikannya? Nama aslinya dan dimana keluarganya? Apa yang terjadi padanya saat dia sendirian? Jika kau bisa membuktikannya satu saja, aku akan mempercayaimu."

Ui Hwa jelas cemas mengingat Ji Dwi sejak awal hanya memberinya informasi ambigu tentang dirinya dan tujuan utama Ji Dwi untuk menjatuhkan Ratu. ratu Ji So terus mengancam, jika Ui Hwa tidak bisa membuktikannya maka dia akan menyiksa keponakan Ui Hwa itu dengan sangat amat kejam sampai keponakannya Ui Hwa itu mengakui segalanya sebelum dia mati.

Ui Hwa tetap tersenyum menanggapinya, apa Ratu sedang membuat kesepakatan dengannya? Tapi saat dia teringat pengakuan Ji Dwi bahwa dia adalah seseorang yang ingin membuat Silla berubah, Ui Hwa akhirnya mengalah dan mau menerima Putri Sook Myung.



A Ro masih terus murung saat dia memasakkan obatnya Ui Hwa dan saat dia menyajikannya. Ui Hwa heran melihat wajah A Ro, Apa ada masalah? Apa terjadi sesuatu? A Ro bertanya apakah Sun Woo anggota Hwarang yang baik? Apa dia seseorang yang bisa dipercaya? Dia orang yang seperti apa?



Sambil menjemur pakaian, A Ro terus meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak peduli, lagipula Sun Woo bukan kakak kandungnya. Tapi dari sela jemurannya, tiba-tiba dia melihat sosok seseorang di depannya. Mengira Sun Woo, A Ro pun langsung menyibak jemurannya... tapai malah melihat Ji Dwi. A Ro kecewa.

"Memangnya siapa yang kau harapkan? Orabi-mu?" tanya Ji Dwi 

"Pergi saja. Jangan menggangguku"

Ji Dwi tidak terima diacuhin "Aku bukan seseorang yang mengganggu orang lain, aku membuat mereka tidak nyaman."


Saat A Ro masih saja mengacuhkannya, Ji Dwi langsung menarik jemuran yang dipegang A Ro hingga jarak mereka jadi sangat dekat. Apa Ji Dwi mau menciumnya lagi? Sebaiknya dia pergi saja selama dia masih bicara baik-baik. Ji Dwi heran, apa A Ro tidak merasakan apapun dengan kedekatan mereka ini? 

"Hati pria di hadapanmu ini tengah berdebar kencang. Dia berteriak mengatakan dia menyukaimu. Aku tanya apa kau tidak terpengaruh sedikitpun?"



Tapi A Ro sama sekali tidak mempedulikan pernyataan cintanya dan kembali bertanya-tanya tentang Orabi-nya. Dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Apa dia bisa makan? A Ro jongkok ke depan cuciannya sambil merenung. Ji Dwi jongkok di sampingnya dan mengulurkan tangannya, melindungi A Ro dari sengatan sinar matahari. 

"Sekarang lihatlah aku. Tidak seharusnya aku terluka, tapi aku merasa terluka. Tapi kita jadi lebih dekat dan kita akan semakin dekat seiring berjalannya waktu."

A Ro hanya diam menatapnya. Tapi saat dia berpaling, dia mendapati Sun Woo sedang memperhatikan mereka. Sun Woo cepat-cepat berbalik pergi hingga membuat A Ro semakin sedih.


Sook Myung tiba di Rumah Hwarang dan disambut oleh Ui Hwa. Tapi wajah sang putri tetap tanpa senyum dan langsung minta izin untuk berkeliling seorang diri. Begitu Sook Myung masuk, Ui Hwa langsung mendengus, Sook Myung itu mirip sekali dengan ibunya.



Han Sung kagum saat melihat Sook Myung dari kejauhan, baru kali ini dia melihat seorang putri. Soo Ho heran kenapa Sook Myung datang kemari. Yeo Wool yakin kalau kedatangan Sook Myung adalah untuk menikah. Terlihat jelas kok, dia sudah cukup umur untuk menikah. Alasan apalagi yang membuatnya datang ke Rumah Hwarang yang penuh dengan para tuan muda selain untuk mencari pasangan.

Soo Ho dengan pedenya berkata kalau Sook Myung bukan tipenya, dia tidak seperti ibunya. Dan kenapa juga Sook Myung sedingin itu tanpa senyum? Han Sung heran mendengar ucapan Soo Ho, Ibunya Sook Myung kan jauh lebih dingin.



Sook Myung berjalan melewati jembatan dan melihat Ji Dwi bersama Pa Oh di bawah, tapi dia terus berlalu pergi. Ji Dwi heran apa sebenarnya tujuan ibunya membawa Sook Myung kembali kemari.


Sook Myung terus berjalan hingga tiba di tepi sungai tempat Sun Woo sedang merenung. Dari kejauhan, Sun Woo melihat Sook Myung duduk di atas batu lalu mulai melepas sepatunya dan merendam kakinya ke sungai. Sook Myung jadi keenakan sampai tertidur.


Tapi saat dia membuka mata kembali, dia malah mendapati Sun Woo bergerak ke arahnya dengan tongkat kayu. Sook Myung sontak panik apalagi Sun Woo langsung saja mengayunkan tongkatnya... tapi bukan padanya, melainkan pada ular yang merayap di dahan pohon yang ada di atas kepala Sook Myung. Sook Myung hendak membunuh ular itu. Tapi Sun Woo menghalangi pedangnya dan melempar ular itu menjauh.



Sook Myung langsung mengarahkan pedangnya ke Sun Woo, kenapa dia tidak membunuh ular itu? Itu ular beracun. Sun Woo santai menjauhkan pedang itu dari lehernya, kenapa juga dia harus membunuh ular itu? Bukan salahnya dia terlahir beracun. Jika Sook Myung takut maka seharusnya dia lebih berhati-hati.

Bersambung ke part 2


0 komentar

Posting Komentar